Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Perbatasan Jawa Tengah Dan Jawa Timur Alas Kucur

Saturday, June 20, 2015


Di Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur sebelah selaatan Gunung Lawu terdapat hutan jati yang memisahkan dua Propinsi. Hutan jati ini masyarakat sekitar menamainya Alas Kucur, tidak seperti di hutan jati sebelah utara Gunung Lawu yang sudah ramai menjadi jalan utama lintas Propisi di Hutan Kucur atau Alas Kucur ini kalau hari liburan Sekolah Minggu atau tanggal merah ramai di kunjungi muda mudi yang menghabiskan hari liburnya di alas kucur ini, entah ngopi atau pun minum air kelapa muda yang banyak di jajakan di situ.

Alas Kucur atau Hutan Kucur ini letaknya di sebelah selatan Gunung Lawu kalau kita dari arah Timur kurang lebih 25 km dari Kota Reog Ponorogo, sedang kalau kita dari arah Solo kita naik Bus jurusan Purwantoro kira-kira sekitar 95 km dari solo, dari Kota Wonogiri 55 km kesebelah Timur.


Mulai pukul 10:00 WIB warung warung kopi sudah mulai di datangi pengunjung yang sekedar menghibur diri di Alas Kucur yang lumayan sejuk di musim kemarau. Muda Mudi ini biasanya datang berame-rame bersama teman-teman sekolah mereka maklum saja di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur sebelah selatan Gunung Lawu ini jarang sekali tempat Obyek Wisata.

Kadang kala di Alas Kucur ada pentas seni Reog Ponorogo yang di mainkan oleh masyarakat sekitar tepatnya dari Desa Biting Badegan Ponorogo, untuk memeriahkan suasa saja dan untuk latihan katanya sih. Di Alas Kucur ini kadang juga di adakan Lomba Ofrut, kalau ada lomba ofrout ini rame banget dan menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat sekitar Alas Kucur.


Untuk Sejarah Kucur sendiri belum ada yang mengetahui nama kucur itu dulunya kenapa kok dinamai Kucur, Mungkin dari teman-teman sekitar Alas Kucur ada yang mengetahuinya bisa menulis coment di bawah dan bisa menambah pengetahuan untuk kita semua yang pernah singgah atau pun cuma lewat Alas Kucur.


Memeriahkan Lebaran Dengan Balon

Tuesday, June 16, 2015

BALON mendengar kata tersebut aku jadi teringat dengan suatu benda yang melayang-layang di udara di waktu hari-hari Puasa menjelang lebaran. Di daerah asalku Desa kelahiranku Kepyar waktu dulu jaman tahun 1988 sampai 1997 di waktu menjelang Lebaran atau Hari Raya Idhul Fitri akan banyak anak-anak yang senang membuat suatu hiburan di buatnya balon dari bahan plastik putih maupun hitam yang biasa di beli di pasar Purwantoro.

Untuk membuat balon yang kita perlukan adalah bahan-bahan yang sederhana yaitu platik atau pun kertas, untuk membuat balon dari bahan plastik alatnya cukup menggunakan ublik dan lidi dari pohon kelapan, sedangkan untuk bahan kertas alatnya cukup dengan lem dan ketelatenan.

Waktu dulu jaman belum semodern sekarang ini untuk mengisi waktu di bulan Puasa anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) maupun yang sudah di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di waktu sore hari menghibur dirinya dengan membuat balon ini setelah selesai biasanya akan di umbulne (diterbangkan) dengan menggunakan asap yang di peroleh dengan membakar Blarak (Daun Kelapa Kering) dan sampah-sampah daun yang banyak terdapat di bawah pohon di sekitar jalan Desa. Tapi waktu dulu itu menuruk saya kok terasa lucu juga waktu balon yang selesai di buat dan di terbangkan tapi setelah terbang di kejar sampai turun lagi dan di bawa pulang.


Itu tadi sekelumit kesibukan anak-anak Desaku jaman 1988 sampai 1997 untuk mengisi waktu di sore hari bulan Puasa. Menjelang berakhirnya Bulan Puasa anak-anak akan membuat jenis Balon yang sama tetapi ukurannya yang jauh berbeda biasanya ukuran diameter balonnya itu akan 2 meter sampai 3 meter dan ketinggiannya biasanya ada yang 5 m sampai 8 meter, balon yang ukurannya besar ini akan di umbulne (diterbangkan) di waktu setelah selasai Sholat Idhul Fitri, di lapangan Desa Kepyar ( Lapangan Mandala Bakti) akan dilaksanakan Sholat Idhul Fitri seluruh warga baik yang masih kecil sampai yang sudah tua.


Di lapangan Desa ini beramai-ramai Balon yang ukurannya Super Besar menurut pandangan orang-orang Desa kami akan di umbulne (diterbangkan) tetapi untuk balon yang ukuran besar ini tidak akan dikejar lagi.



Bunga Wijaya Kusuma

Wednesday, May 1, 2013

Liat bunga mekar lalu aku memfotonya dengan kamera hp dan katanya itu bunga Wijaya Kusuma, iseng googling nyari artikel tentang bunga tersebut eh ternyata kata tulisan artikel di blog kembangkeramat.blogspot ada jenisnya yang Keramat juga.
Wijaya Kusuma Keramat atau Pisonia Grandis

Wijayakusuma Keramat
Bunga Wijaya Kusuma atau nama latinnya Pisonia Grandis var Silvestris, tanaman ini kurang dikenal oleh mayarakat luas. Yang paham umumnya ahli botani atau paranormal, bentuknya mirip kol belanda (Pisonia Alba) yang biasa di tanam untuk tanaman hias. Bedanya, daun pucuk kol belanda warnanya kuning cerah, sementara daun pucuk wijayakusuma tetap hijau seperti daun pada umumnya.

Tanaman wijayakusuma bisa tinggi sekitar 3 meter bentuknya mirip bonsai. Menurut ahli K. Heyne, tanaman ini tingginya bisa mencapai 13 meter. Di Indonesia adanya di Kepulauan Seribu, Karimunjawa, pulau Puteran Madura, Bali, Ambon dan di Pulau Karang Bandung dekat pulau Nusakambangan. Di Bali dinamakan dag-dag see, di Ambon dinamakan sayur putih pulu. Yang bisa berbunga (mekar) cuma wijayakusuma Pisonia ini, yaitu yang ada pulau Karang Bandung Nusakambangan, Karimunjawa dan Bali, tapi jarang sekali.

Wijayakusuma punya bunga majemuk, tangkai bunganya merekah keluar. Satu tangkai bisa punya sekitar 10 helai, tiap helai bisa tumbuh sampai 20 kuntum bunga, jadi satu tangkai Wijayakusuma itu bisa ratusan bunga. Diameter bunga sangat kecil, cuma sekitar 2-4 milimeter, kalu sedang mekar , panjangnya 5 sampai 6 milimeter, bentuknya mirip terompet , warna kelopak bunga hijau, mahkota putih, benang sari putih kekuningan.

Bunga Wijayakusuma beraroma harum, mekar pada siang hari, dan bisa bertahan satu hari, setelah itu layu terus kering. Setangkai bunga kalau mekar tidak berbarengan tetapi bertahap, ada yang bisa menjadi biji (antara 1 - 2).

Bunga Sedap Malam

Wijayakusuma Hias
Tanaman ini biasanya ditanam di pot di pojok-pojok rumah. Bahasa latinnya Epiphyllum oxypetalum (Queen of’ Night). Warna bunganya putih, diameter 10 cm, awalnya banyak orang yang menamai midnight flower atau bunga tengah malam atau juga bunga sedap malam. bunga ini mekarnya pasti di waktu malam hari baunya sangatlah wangi atau harum benar-benar, pada waktu terbit matahari pasti bunga ini akan layu. Di masyarakat China populer menamai Keng Hwah yang artinya kembang yang indah dan agung. Mitosnya siapa saja yang beruntung bisa melihat bunga ini bakal lancar rejekinya.

Bunga Wijayakusuma atau Bunga Sedap malam hasil jepretan Hp SE W8

Lebaran

Monday, October 18, 2010

Lebaran adalah nama lain dari Hari Raya umat Islam, baik hari raya Idul Fitri maupun hari Raya Idul Adha yang dirayakan setiap tahun atau setiap bulan Syawal setelah sebulan umat Muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadan.

Lebaran Idul Fitri
Lebaran Idul Fitri atau biasa disebut "Lebaran" saja dilaksanakan ketika hari raya Idul Fitri tiba, setelah menunaikan Salat Ied orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangganya, juga familinya. Khususnya didesa ku biasanya ada acara ngumbulne balon atau menerbangkan balon yang terbuat dari kertas atau dari plastik.






Ketika Lebaran tiba, sudah biasa umat Muslim melakukan "Mudik", pergi menuju kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak saudara, khususnya bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta.


Jaranan Reog

Thursday, September 23, 2010

Seni Jaranan itu mulai muncul sejak abad ke 10 Hijriah. Tepatnya pada tahun 1041. atau bersamaan dengan kerajaan Kahuripan dibagi menjadi 2 yaitu yaitu bagian timur Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan dan sebelah Barat Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibukota Dhahapura.



Sejarah Jaranan
Raja Airlangga memiliki seorang putri yang bernama Dewi Sangga Langit. Dia adalah orang kediri yang sangat cantik. Pada waktu banyak sekali yang melamar, maka dia mengadakan sayembara. Pelamar-pelamar Dewi Songgo Langit semuanya sakti. Mereka sama-sama memiliki kekuatan yang tinggi. Dewi Songgo Langit sebenarnya tidak mau menikah dan dia Ingin menjadi petapa saja. Prabu Airlangga memaksa Dewi Songgo Langit Untuk menikah. Akhirnya dia mau menikah dengan satu permintaan. Barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum ada di Pulau Jawa dia mau menjadi suaminya.

Ada beberapa orang yang ingin melamar Dewi Songgo Langit. Diantaranya adalah Klono Sewandono dari Wengker, Toh Bagus Utusan Singo Barong Dari Blitar, kalawraha seorang adipati dari pesisir kidul, dan 4 prajurit yang berasal dari Blitar. Para pelamar bersama-sama mengikuti sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit. Mereka berangkat dari tempatnya masing-masing ke Kediri untuk melamar Dewi Songgo Langit.

Dari beberapa pelamar itu mereka bertemu dijalan dan bertengkar dahulu sebelum mengikuti sayembara di kediri. Dalam peperangan itu dimenangkan oleh Klana Sewandono atau Pujangganom. Dalam peperangan itu Pujangganom menang dan Singo Ludoyo kalah. Pada saat kekalahan Singo Ludoyo itu rupanya singo Ludoyo memiliki janji dengan Pujangganom. Singa Ludoyo meminta jangan dibunuh. Pujangganom rupanya menyepakati kesepakatan itu. Akan tetapi Pujangganom memiliki syarat yaitu Singo Barong harus mengiring temantenya dengan Dewi Sangga Langit ke Wengker.

Iring-iringan temanten itu harus diiringi oleh jaran-jaran dengan melewati bawah tanah dengan diiringi oleh alat musik yang berasal dari bambu dan besi. Pada jaman sekarang besi ini menjadi kenong. Dan bambu itu menjadi terompet dan jaranan.

Dalam perjalanan mengiringi temantenya Dewi Songgo Langit dengan Pujangganom itu, Singo Ludoyo beranggapan bahwa dirinya sudah sampai ke Wengker, tetapi ternyata dia masih sampai di Gunung Liman. Dia marah-marah pada waktu itu sehingga dia mengobrak-abrik Gunung Liman itu dan sekarang tempat itu menjadi Simoroto. Akhirnya sebelum dia sampai ke tanah Wengker dia kembali lagi ke Kediri. Dia keluar digua Selomangklung. Sekarang nama tempat itu adalah selomangkleng.

Karena Dewi Sonmggo Langit sudah diboyong ke Wengker oleh Puijangganom dan tidak mau menjadi raja di Kediri, maka kekuasaan Kahuripan diberikan kepada kedua adiknya yang bernama Lembu Amiluhut dan Lembu Amijaya. Setelah Sangga Langit diboyong oleh Pujangganom ke daerah Wengker Bantar Angin, Dewi Sangga Langit merubah nama tempat itu menjadi Ponorogo Jaranan muncul di kediri itu hanya untuk menggambarkan boyongnya dewi Songgo langit dari kediri menuju Wengker Bantar Angin. Pada saat boyongan ke Wengker, Dewi Sangga Langit dan Klana Sewandana dikarak oleh Singo Barong. Pengarakan itu dilakukan dengan menerobos dari dalam tanah sambil berjoget. Alat musik yang dimainkan adalah berasal dari bambu dan besi. Pada jaman sekarang besi ini menjadi kenong.

Untuk mengenang sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit dan Pernikahanya dengan Klana Sewandono atau Pujangga Anom inilah masyarakat kediri membuat kesenian jaranan. Sedangkan di Ponorogo Muncul Reog. Dua kesenian ini sebenarnya memiliki akar historis yang hampir sama. Seni jaranan ini diturunkan secara turun temurun hingga sekarang ini.






Jaranan Dan Representasi Abangan
Jaranan pada jaman dahulu adalah selalu bersifat sakral. Maksudnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya gaib. Selain untuk tontonan dahulu jaranan juga digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan roh-roh leluhur keraton. Pada jaman kerajaan dahulu jaranan seringkali ditampilkan di keraton.

Dalam praktek sehari-harinya para seniman jaranan adalah orang-orang abangan yang masih taat kepada leluhur. Mereka masih menggunakan danyangan atau punden sebagai tenpat yang dikeramatkan. Mereka masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap roh-roh nenek moyangnya. Mereka juga masih melaksanakan praktik-praktik slametan seperti halnya dilakukan oleh orang-orang dahulu.

Pada kenyataanaya seniman jaranan yang ada di kediri adalah para pekerja kasar semua. Mereka sebagian besar adalah tukang becak dan tukang kayu. Ada sebagian dari mereka yang bekerja sebagai sebagai penjual makanan ringan disepanjang jalan Bandar yang membujur dari utara ke selatan.

Cliford Geertz mengidentifikasi mereka dengan sebutan abangan. Geertz memberikan penjelasan tentang praktik abangan. Masayarakat abangan adalah suatu sekte politio-religius dimana kepoercayaan jawa asli melebur dengan Marxisme yang Nasionalistis yang memungkinkan pemeluknya sekaligus mendukung kebijakan komunisdi Indonesia. Sambil memurnikan upacara-upacara abangan dari sisa-sisa Islam (Geertz 1983).

Dalam perkembanganya kesenian jaranan mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan kondisi social masyarakat yang sudah berubah dalam memaknai dan mengambangkan jaranan. dari tahun-ke tahun jaranan mulai berubah dari yang sifatnya tuntunan menjadi tontonan dan yang paling menarik adalah jaranan sebagai alat untuk menarik simpatisan dan untuk pengembangan pariwisata.

Jaranan pada tahun 1960-an menjadi alat politik PKI untuk menopang kekuasaanya dan menarik masa. Pada tahun-tahun itu kebijakan Sukarno tentang Nasakom sangat mempengaruhi keberadaan lembaga-lembaga yang ada di bawah. Dari nasionalisme, Agama dan komunis ini, memiliki lembaga-lembaga sendiri. Kelompok itu memiliki basis kesenian sendiri-sendiri. Lekra, lesbumi dan LKN adalah lembaga kesenian yang ada di tingkat bawah.

Pada tahun itu jaranan sudah ada dan kebetulan bernaung dibawah pengawasan Lekra. Jaranan pada saat itu sudah sangat digemari masyarakat. Bahkan dikediri pada saat itu sudah berdiri beberapa kelompok jaranan. kelompok jaranan ini banyak digawangi oleh orang-orang yang berada di lembaga kesenian. Dari ketiga lembaga kesenian yang ada, semuanya memiliki kesenian sendiri-sendiri yang sesuai dengan misinya masing-masing.

Pada tahun 60an itu masing-masing kelompok jaranan berkontestasi dengan sehat. Walaupun mereka berasal dari lembaga kesenian yang berbeda, tapi pada saat itu mereka masih bisa berbagi ruang dan berkontestasi. Mereka saling mendukung dan mengembangkan kreatifitasnya dalam berkesenian. Jaranan pada saat itu masih tampil dengan polos sekali. Pemainya hanya mengenakan celana kombor dan tanpa make up. Tidak ada batas antara pemain, penabuh dan penonton. Mereka sama-sama berada di tanah. Mereka bisa saling tukar main antara satu dengan lainya. Berbeda dengan jaman jepang pada yang masih menggunakan goni sebagai pakaiannya. Pada tahun-tahun 60an jaranan bisa tampil vulgar di manapun dia berada.

Pada tahun 1965 terjadi peristiwa pembersihan dari kalangan agamawan kepada kelompok-kelompok abangan. Pembersihan ini dilakukan tas kerjasamama Negara dengan kaum agamawan. Akibat dari pembersihan itu masyarakat abangan yang ada di Kediri pada saat itu sempat kocar-kacir. Terlebih pada orang-orang yang memang bergelut di lembaga PKI ataupun pernah terlibat.

Orang-orang yang terlibat sebagai anggota partai komunis dibunuh. Para seniman-seniman yang berada dibawah PKI yaitu Lekra dihabisi semua. Danyangan dan beberapa punden banyak yang dirusak. Bahkan patung-patung dan arca yang sekarang berada di museum Airlangga terlihat banyak yang hancur. Ini adalah akibat pertikaian politik 1965. segala property yang berhubungan dengan tradisi orang abangan dimusnahkan. Termasuk didalamnya adalah jaranan.

Setelah kejadian berdarah tahun 1965 itu jaranan yang dahulu adalah kesenian yang sangat dibangggakan masyarakat hilang seketika. Jaranan adalah representasi dari kaum abangan yang mencoba untuk memberikan eksistensi dirinya pada kesenian. Mereka benar-benar mengalami trauma yang berkepanjangan. Sehingga kesenian jaranan pada paska 65 mundur. Kondisi politik 65 ini telah membawa jaranan pada titik kemandekanya. Kecuali jaranan yang bernaung di bawah komunis aman dari pembersihan ini. Keberadaan jaranan pada saat itu juga masih relative sedikit. Trauma itu ternyata tidak dirasakan oleh orang-orang yang berasal dar lekra saja. Seniman dari lesbumi dan LKN waktu itu juga agak ketakutan untuk tampil di public. Kebanyakan dari seniman yang ada dikediri pada waktu itu juga berhenti dari kesenian untuk semantara waktu.

Pasca peristiwa berdarah itu seluruh elemen masyarakat memberikan identifikasi yang negatif terhadap kesenian jaranan. dari kalangan agamawan. Para agamawan beranggapan bahwa jaranan itu mengundang setan. Sehingga wajar jika pada saat itu para agamawan terlebih ansor menghabisi seniman-seniman yang berbau komunis di kediri.

Negara yang mulai memberikan pengngontrolan seniman dengan membuatkan Nomor Induk Seniman (NIS) pada kurun waktu tahun 1965-1967. Dengan memberikan NIS ini pemerintah bisa mengontrol lebih jauh seniman yang terlibat dengan komunis. Bagi yang tidak memiliki NIS biasanya mereka dikasih nomor aktif sebagai seniman. "Tanpa memiliki kartu ini, seniman tidak boleh tampil di ruang publik" kata Mbah Ketang.

Praksis paska 65 jaranan jarang sekali tampil di ruang public. Seniman-seniman jaranan yang berasal dari LKN mungkin masih bisa berunjuk kebolehanya di ruang public. Misalnya jaranan Sopongiro di Bandar dan jaranan Turnojoyo Pakelan. Dua jaranan ini bisa eksis dan tidak terberangus pada tahun 65 karena mereka adalah kelompok kesenian yang berasal dari LKN.

Stigmatisasi yang dikembangkan oleh agamawan dan Negara rupanya telah meberangus nalar masyarakat. Paska 65 masyarakat secara tidak langsung memberikan identifikasi negatif terhadap kesenian jaranan. Mereka masih menganggap bahwa kesenian jaranan itu adalah kesenian milik PKI.

Masyarakat tidak mau dicap merah oleh pemerintah dan kaum agamawan sebagai pengikut PKI. Akhirnya kesenian jaranan dijauhi oleh masyarakat. Pasca terjadi peristiwa berdarah rtahun 1965 itu, kesenian jaranan mulai lumpuh total. Baru pada tahun 1977 jaranan mulai menggeliat lagi. Jaranan menjadi sebyuah idiom baru yang tampil berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jaranan pada tahun sebeliumnya banyak berafiliasi dengan komunis akan tetapi pada tahun itu jaranan mulai menggandeng militer untuk dijadikan alat untuk melindungi dirinya.

Artikel tersebut diatas saya kutip dari wikipedia


Kalau Foto-foto Jaranan itu diambil di pementasan Reog di Purwantoro, Wonogiri. group Reog nya Ringin Seto.

Kembar Mayang dan Janur

Sunday, September 19, 2010

Kembar Mayang adalah hiasan yang terbuat dari janur, buah-buahan dan bunga yang jumlahnya ada dua. kembar Mayang dipercaya jadi salah satu syarat dari pesta pernikahan adat jawa kususnya Jawa Tengah. Kembar Mayang membawa pertada bahwa bertemunya keluarga baru, asli budaya kembar mayang adalah meniru pesta perkawinan para bangsawan atau penobatan Raja.

Kembar Mayang
Kembar Mayang sudah jadi tradisi yang harus ada setiap ada acara pesta pernikahan, Sejarahnya itu dari cerita legenda Partakrama dulu kala Dewi Supraba mau di jadikan istri oleh Danaraja kalau syaranya terpenuhi, Dewi Supraba minta Kembar Mayang Khayangan yang berupa Klepu Jayadaru Dewadaru. Klepu adalah Kalpataru Pohon Kalpataru dianggap bahwa pohon kehidupan yang mempunyai Kasiat atau Hoki yang baik yang bisa mempengaruhi sekitarnya, maka dari itu pohon ini di impikan oleh Dewi Supraba. Untungnya ada Pandawa yang sanggup meminjam Kembar Mayang tersebut dari Khayangan.

Kembar mayang biasanya ada pada acara Pesta Pernikahan, untuk Tolak bala, Penghormatan pelantikan Pejabat.

Tapi sekarang ini saya sering melihat Kembar Mayang yang terbuat dari plastik, mungkin sekarang tradisi Kembar Mayang sudah hampir di tinggalkan oleh orang yang tidak mau repot memikirkan pembuatan Kembar Mayang yang pembuatantannya cukup lama dan bahan bakunya cukup sulit di dapat, atau kemungkinan karena harga Kembar Mayang sendiri cukup mahal.

Kembar Mayang Kecil

Kembar Mayang
Foto diatas adalah Kembar Mayang yang di buat pada saat pernikahan temen saya di Desa Biting, Purwantoro, Wonogiri.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Cumbri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger