Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Serat Kalitada Jaman Edan

Monday, June 22, 2015

Ngobrol bersama Pakdhe ku ternyata sampai membahas mengenai Serat Kalitada karangan dari Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pakdhe ku bercerita bahwa di dalam Serat Kalitada tersebut bahwa menggambarkan keadaan di jaman yang akan datang, umat manusia akan kebingungan karena di dunia ini tidak akan ada kepastian dan tidak menentu keadaannya jaman tersebut adalah jaman gila atau edan. 


Serat Kalatidha ingkang dipun anggit pujangga agung Raden Ngabehi Ronggowarsito, anggambaraken kawontenan ing jaman
mangu-mangu. Umat manungsa tansah mangu-mangu awit
kawontenan ing ndoya ingkang mboten wonten pesthenipun,
ingkang kaserat ugi minangka jaman edan.

1. Siji
Mangkya darajating praja,
kawurjan wus sunya ruri,
rurah pangrehing ukara,
karana tanpa palupi,
ponang paramengkawi,
kawileting tyas malatkung,
kongas kasudranira,
tidhem tandhaning dumadi,
ardayengrat dening karoban rubeda.

2. Loro
Ratune ratu utama,
patihe patih linuwih,
pra nayaka tyas raharja,
panekare becik-becik,
parandene tan dadi,
paliyasing Kalabendu,
malah sangkin andadra,
rubeda kang ngreribedi,
beda-beda ardane wong sanagara,

3. Telu
Katatangi tangisira,
sira sang paramengkawi,
kawileting tyas duhkita,
kataman ing reh wirangi,
dening upaya sandi,
sumaruna anarawung,
pangimur manuara,
met pamrih melik pakolih,
temah suha ing karsa tanpa weweka,

4. Papat
Dhasar karoban pawarta,
babaratan ujar lamis,
pinudya dadya pangarsa,
wekasan malah kawuri,
yen pinikir sayekti,
pedah apa aneng ngayun,
andhedher kaluputan,
siniraman banyu lali,
lamun tuwuh dadi kakembanging beka.

5. Limo
Ujaring panitisastra,
awawarah asung peling,
ing jaman keneng musibat,
wong ambek jatmika kontit,
mengkono yen niteni,
pedah apa lalawora,
mundhak angraranta ati,
angurbaya ngiketa cariteng kuna,

6. Enem
Keni kinarya darsana
penglimbangan ala lan becik,
sayekti akeh kewala,
lalakon kang dadi tamsil,
masalahing ngaurip,
wahananira tinemu,
temahan anarima,
mupus papasthening takdir,
puluh-puluh anglakoni kaelokan.


7. Pitu
Amenangi jaman edan,
ewuh aya ing pambudi,
melu edan nora tahan,
yen tan melu anglakoni,
boya kaduman melik,
kaliren wekasanipun,
dilalah karsa Allah,
begja-begjane kang lali,
luwih begja kang eling lan waspada.

8. Wolu
Samono iku bebasan,
padu-padune kepengin,
bener ingkang angarani,
nanging sajroning batin,
sajatine nyamut-nyamut,
wis tuwa arep apa,
nuhung mahasing asepi,
supayantuk parimarmaning Hyang Sukma.

9. Songo
Beda lan kang wus santosa,
kinarilan ing Hyang Widdhi,
satiba malanganeya,
tan susah ngupaya kasil,
saking mangunah prapti,
PAngeran paring pitulung,
marga samaning titah,
rupa sabarang pakolih,
parandene masih taberi iktiyar.

10. Sepuluh
Sakadare linakonan,
mung tumindak mara ati,
angger tan dadi prakara,
karana wirayat muni,
ihtiyar iku yekti,
pamilihe reh rahayu,
sinambi budi daya,
kanthi awas lawan eling,
kang kaesthi antuka parmaning Suksma.

Itu tadi serat Kalitada dari Raden Ngabehi Ronggowarsito yang terdiri dari sepuluh serat bisa di artikan sendiri.

Sekarang mungkin sudah memasuki jaman edan tapi mungkin juga nanti generasi setelah kita lebih edan lagi. Sampai tengah malam topik obrolan kami masih mengenai Serat Kalitada kopi ku aja sudah habis dan untuk tidak mengganggu istirahat Pakdhe aku berpamitan pulang.

Memet Ikan Di Kalen

Sunday, June 21, 2015

Satu gelas kopi sudah aku buat dan aku bawa ke bangku di emper rumah sambil udut diselingi ngopi serta chating bbm rasanya nikmat ku bayangkan seperti itu, kucari udutku tapi kok tinggal satu batang yang ada. Akhirnya aku pergi kewarung sebelah barat rumahku agak jauh juga sih kudu naik motor di tengah-tengah jalan aku lihat beberapa orang berkumpul di pinggir jalan tepatnya di Kalen (selokan) aku penasaran adapakah ? dari pada pernasaran pingin tahu akirnya aku berhenti dan melihat wah ternyata mereka lagi MEMET di Kalen (mencari ikat) dari sisa-sisa air selokan disitu kayaknya banyak terdapat ikan kemungkinan lele, wader, uceng dan bahkan iwak empluk (cetuk).

Kata MEMET mungkin cuma orang-orang dan anak-anak daerah asalku saja yang mengetahuinya, di tempat lain lain kemungkinan berbeda bahasa atau istilah. Kalau waktu jaman aku SD dahulu memet di kalen itu hampir tiap akhir musim penghujan anak-anak yang suka bermain bersama-sama teman-teman akan melakukan pencarian dan pemburuan ikan di kalen-kalen yang air nya tinggal genangan nya saja.

Cara memet itu lah yang mengasikan bagi anak-anak usia 7 sampai 13 tahun bermain air dan berburu ikan yang kecil-kecil berebutan beramai-ramai. Kalen atau selokan itu di bendung dahulu disebelah bawahnya lalu anak-anak akan NEWU (menguras airnya) sedangkal mungkin menggunakan ember bekas atau batok kelapa. Setelah air tinggal sedikit maka anak-anak akan segera turun mengubek-ubek air yang tinggal sedikit tapi dan ikan kecil-kecil akan segera di buru nya. 

Itu tadi sedikit tentang memet mencari ikan yang sangat di gemari anak-anak di mana saja berada, untuk tempat yang lain kemungkinan istilahnya berbeda kalau ada yang pernah mengalami hal seperti itu di tempat asal nya namanya apa ? bisa kasih tahu ??? 

Burung Merpati Simbol Cinta

Thursday, May 16, 2013

Semua Orang pasti tahu dengan Burung Merpati, saya pun memelihara burung merpati tersebut buat hiburan di rumah. Kalau waktu sore hari saya kasih makan jagung di halaman rame banget tuh burung saling berebut dengan Pitik (ayam).


Merpati dan dara termasuk dalam famili Columbidae dari ordo Columbiformes, yang mencakup sekitar 300 spesies burung kerabat pekicau. Dalam percakapan umum, istilah "dara" dan "merpati" dapat saling menggantikan. Dalam praktik ornitologi, terdapat suatu kecenderungan "dara" digunakan untuk spesies yang lebih kecil dan "merpati" untuk yang besar, namun hal ini tidak secara konsisten diterapkan, dan secara historis nama umum untuk burung-burung tersebut memiliki banyak variasi antara istilah "dara" dan "merpati." Famili ini terdapat di seluruh dunia, namun varietas terbesar terdapat di Indomalaya dan Ekozona Australasia. Dara dan merpati muda disebut "squabs."

Merpati dan dara memiliki badan gempal dengan leher pendek dan paruh ramping pendek dengan cere berair. Spesies yang umumnya dikenal sebagai "merpati" adalah merpati karang liar, umum digunakan di banyak kota.

Dara dan merpati mebangun sangkarnya dari ranting dan sisa-sisa lainnya, yang ditempatkan di pepohonan, birai, atau tanah, tergantung spesiesnya. Mereka mengerami satu atau dua telur, dan kedua induknya sangat memedulikan anaknya, yang akan meninggalkan sangkarnya setelah 7 hingga 28 hari. Dara makan biji, buah dan tanaman. Tidak seperti kebanyakan burung lainnya (namun lihat juga flamingo), dara dan merpati menghasilkan "susu tembolok." Kedua jenis kelamin menghasilkan zat bernutrisi tinggi ini untuk memberi makan anaknya.

Merpati sering diapakai sebagai lambang perdamaian oleh manusia dan sering digambarkan sedang memegang daun ZAITUN ,menurut catatan dahulu merpati pernah dipakai untuk mengirim surat dengan mengikatkan surat di kakinya.

Burung Merpati Menjadi Simbol Cinta Kenapa? saya coba cari di website-website ternyata alasannya Burung merpati itu dipilih mewakili cinta karena mitologi Yunani terkait burung kecil putih bersama Aphrodite, dewi cinta. Aphrodite/Venus sering digambarkan bersama merpati beterbangan di sekitarnya atau beristirahat di tangannya.

Merpati juga mewakili monogami dan kesetiaan dalam hubungan karena burung ini cenderung tinggal bersama pasangannya selama musim kawin. Merpati jantan juga membantu menetaskan dan merawat anak mereka, yang membantu burung ini mencapat citra setia dan mencintai.

Bahkan, reputasi mereka sebagai simbol cinta begitu kuat dan membuat banyak resep obat cinta populer di abad pertengahan memasukkan jantung burung merpati sebagai bahannya.

Saya juga sering melihat si burung merpati jantan menyuapi anaknya yang baru menetas, kayaknya mereka adalah keluarga yang bahagia.

Kisah Di Balik Aksara Jawa

Saturday, May 4, 2013

Aksara Jawa merupakan warisan peninggalan nenek moyang kita yang sangat berharga. Namun sekarang hanya sedikit orang yang mengetahui dan mau mempelajari. Bahkan banyak orang Jawa yang tidak tahu urusan Jawa. Itu sangat disayangkan. Tahukah sobat kalau ada sebuah kisah di balik dua puluh aksara Jawa tersebut? Kisah ini tentang seorang pemuda bernama Ajisaka dan kedua abdinya, yaitu Dora dan Sembada. Inilah ceritanya:


Dikisahkan ada seorang pemuda tampan yang sakti mandraguna, yaitu Ajisaka. Ajisaka tinggal di pulau Majethi bersama dua orang punggawa (abdi) setianya yaitu Dora dan Sembada. Kedua abdi ini sama-sama setia dan sakti. Satu saat Ajisaka ingin pergi meninggalkan pulau Majethi. Dia menunjuk Dora untuk menemaninya mengembara. Sedangkan Sembada, disuruh tetap tinggal di pulau Majethi. Ajisaka menitipkan pusaka andalannya untuk dijaga oleh Sembada. Dia berpesan supaya jangan menyerahkan pusaka itu kepada siapa pun, kecuali pada Ajisaka sendiri.

Lain kisah : Di pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang sangat makmur sejahtera yaitu kerajaan Medhangkamulan. Rakyatnya hidup sejahtera. Kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh seorang raja arif bijaksana bernama Dewatacengkar. Prabu Dewatacengkar sangat cinta terhadap rakyatnya.

Pada suatu hari ki juru masak kerajaan Medhangkamulan yang bertugas membuat makanan untuk prabu Dewatacengkar mengalami kecelakaan saat memasak. Salah satu jarinya terkena pisau hingga putus dan masuk ke dalam masakannya tanpa dia ketahui. Disantaplah makanan itu oleh Dewatacengkar. Dia merasakan rasa yang enak pada masakan itu. Dia bertanya daging apakah itu. Ki juru masak baru sadar bahwa dagingnya disantap Dewatacengkar dan menjawab bahwa itu adalah daging manusia. Dewatacengkar ketagihan dan berpesan supaya memasakkan hidangan daging manusia setiap hari. Dia meminta sang patih kerajaan supaya mengorbankan rakyatnya setiap hari untuk dimakan.

Oleh karena terus menerus makan daging manusia, sifat Dewatacengkar berubah 180 derajat. Dia berubah menjadi raja yang kejam lagi bengis. Daging yang disantapnya sekarang adalah daging rakyatnya. Rakyatnya pun sekarang hidup dalam ketakutan. Tak satupun rakyat berani melawannya, begitu juga sang patih kerajaan.

Saat itu juga Ajisaka dan Dora tiba di kerajaan Medhangkamulan. Mereka heran dengan keadaan yang sepi dan menyeramkan. Dari seorang rakyat, beliau mendapat cerita kalau raja Medhangkamulan gemar makan daging manusia. Ajisaka menyusun siasat. Dia menemui sang patih untuk diserahkan kepada Dewatacengkar agar dijadikan santapan. Awalnya sang patih tidak setuju dan kasihan. Tetapi Ajisaka bersikeras dan akhirnya diizinkan.

Dewatacengkar keheranan karena ada seorang pemuda tampan dan bersih ingin menyerahkan diri. Ajisaka mengatakan bahwa dia mau dijadikan santapan asalkan dia diberikan tanah seluas ikat kepalanya dan yang mengukur tanah itu harus Dewatacengkar. Sang prabu menyetujuinya. Kemudian mulailah Dewatacengkar mengukur tanah. Saat digunakan untuk mengukur, tiba-tiba ikat kepala Dewatacengkar meluas tak terhingga. Kain itu berubah menjadi keras dan tebal seperti lempengan besi dan terus meluas sehingga mendorong Dewatacengkar. Dewatacengkar terus terdorong hingga jurang pantai laut selatan. Dia terlempar ke laut dan seketika berubah menjadi seekor buaya putih. Ajisaka kemudian dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan.

Setelah penobatan, Ajisaka mengutus Dora pergi ke pulau Majethi untuk mengambil pusaka andalannya. Kemudian pergilah Dora ke pulau Majethi. Sesampai di pulau Majethi, Dora menemui Sembada untuk mengambil pusaka. Sembada teringat akan pesan Ajisaka saat meninggalkan pulau Majethi untuk tidak menyerahkan pusaka tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Ajisaka. Dora yang juga berpegang teguh pada perintah Ajisaka untuk mengambil pusaka memaksa supaya pusaka itu diserahkan. Kedua abdi setia tersebut beradu mulut bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Dan akhirnya mereka berdua bertempur. Pada awalnya mereka berdua hati-hati dalam menyerang karena bertarung melawan temannya sendiri. Tetapi pada akhirnya benar-benar terjadi pertumpahan darah. Sampai pada titik akhir yaitu kedua abdi tersebut tewas dalam pertarungan karena sama-sama sakti.

Berita tewasnya Dora dan Sembada terdengar sampai Ajisaka. Dia sangat menyesal atas kesalahannya yang membuat dua punggawanya meninggal dalam pertarungan. Dia mengenang kisah kedua punggawanya lewat deret aksara. Berikut tulisan dan artinya



Sumber

Reog Sejarah

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya . Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Di Kutib dari : Wikipedia

Foto-foto di bawah ini di ambil di Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri pada waktu pementasan Reog di Hari Lebaran




Gunung Cumbri

Wednesday, May 1, 2013

Gunung Cumbri (bukit Cumbri) terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tepatnya di Desa Biting, Purwantoro, Wonogiri. Kalo kita ingin ke Gunung cumbri arah dari solo ke arah Wonogiri baru ke arah Ponorogo dari Solo sekitar 95 km atau 2,5 jam perjalanan naik bus. Cumbri merupakan nama sebuah puncak bukit dari gugusan bukit yang terbentang dari desa mBakalan sampai mBiting, di Cumbri sangatlah gersang tanaman yang hidup di sana hanyalah pohon jambu mete atau jambu monyet dan rumput-rumputan saja.


Penduduk di Cumbri sangatlah ramah, sopan santun dan lugu, untuk air bersih sangatlah minim karena di Cumbri tidak ada sumber air yang memadahi cuma ada tetes-tetes air yang keluar dari sela-sela bebatuan padas yang tandus.

Di Cumbri dulu banyak di tanami pohon Cendana itu sangatlah dulu sekali, sekarang cuma tingal sisa-sisanya saja. Banyak penebangan liar dulu sekali pas waktu saya belom lahir cuma kata Mbah-mbah saja.

Sejarah Cumbri :
Menurut penuturan Mbah saya Gunung Cumbri atau bukit Cumbri dulunya di  huni seekor burung raksasa yang konon namanya Manuk Beri atau mungkin burung Rajawali raksasa, burung raksasa atau manuk Beri tersebut sering berkeliaran mencari mangsa sampai-sampai ke sawah para penduduk desa di bawah bukit atau Gunung cumbri tersebut, yang di cari tidak lain adalah sapi-sapi petani yang digunakan untuk membajak sawah.

Tetapi burung beri tersebut cuma satu ekor saja jadi tidak bisa bertelor tentu saja tidak bisa menghasilkan keturunan, entah burung tersebut jantan atau betina tidak diterang kan oleh mbah saya. Pada suatu malam burung tersebut tidur ketika bangun burung itu mendapati bulu-bulu nya berceceran di tanah, dan burung beri itu kebingunan mau terbang tapi tidak bisa dan akhirnya buru beri itu terjatuh dari tebing Gunung Cumbri dan mati. Ternyata pada malam itu burung beri tidak tahu kalau banyak tikus-tikus yang mengerogoti bulu-bulunya Sang tikus di mintai tolong sama penduduk Desa untuk menggerogoti bulu-bulu burung Beri, karena penduduk Desa takut kalau sapi-sapi mereka habis dimakan burung Beri tersebut. Demikianlah dongeng dari Mbah saya.


Sekarang banyak yang mampir ke puncak bukit Cumbri menikmati pemandangan alam yang yang masih alami walaupun panas menerpa.

Galeri Foto Bukit Cumbri:

Hut 17 Agustus

Monday, October 18, 2010

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta bertempat di Jalan Pegangsaan Timur 56 – Jakarta Pusat.


Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Demikian yang saya ketahui, jadi sekarang kita wajib mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif.

Foto di atas adalah pembuatan Tugu dari bambu yang di buat oleh masyarakat Dusun Karangtengah Desa Kepyar, Purwantoro, Wonogiri yang akan menyambut datang nya hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Jaranan Reog

Thursday, September 23, 2010

Seni Jaranan itu mulai muncul sejak abad ke 10 Hijriah. Tepatnya pada tahun 1041. atau bersamaan dengan kerajaan Kahuripan dibagi menjadi 2 yaitu yaitu bagian timur Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan dan sebelah Barat Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibukota Dhahapura.



Sejarah Jaranan
Raja Airlangga memiliki seorang putri yang bernama Dewi Sangga Langit. Dia adalah orang kediri yang sangat cantik. Pada waktu banyak sekali yang melamar, maka dia mengadakan sayembara. Pelamar-pelamar Dewi Songgo Langit semuanya sakti. Mereka sama-sama memiliki kekuatan yang tinggi. Dewi Songgo Langit sebenarnya tidak mau menikah dan dia Ingin menjadi petapa saja. Prabu Airlangga memaksa Dewi Songgo Langit Untuk menikah. Akhirnya dia mau menikah dengan satu permintaan. Barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum ada di Pulau Jawa dia mau menjadi suaminya.

Ada beberapa orang yang ingin melamar Dewi Songgo Langit. Diantaranya adalah Klono Sewandono dari Wengker, Toh Bagus Utusan Singo Barong Dari Blitar, kalawraha seorang adipati dari pesisir kidul, dan 4 prajurit yang berasal dari Blitar. Para pelamar bersama-sama mengikuti sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit. Mereka berangkat dari tempatnya masing-masing ke Kediri untuk melamar Dewi Songgo Langit.

Dari beberapa pelamar itu mereka bertemu dijalan dan bertengkar dahulu sebelum mengikuti sayembara di kediri. Dalam peperangan itu dimenangkan oleh Klana Sewandono atau Pujangganom. Dalam peperangan itu Pujangganom menang dan Singo Ludoyo kalah. Pada saat kekalahan Singo Ludoyo itu rupanya singo Ludoyo memiliki janji dengan Pujangganom. Singa Ludoyo meminta jangan dibunuh. Pujangganom rupanya menyepakati kesepakatan itu. Akan tetapi Pujangganom memiliki syarat yaitu Singo Barong harus mengiring temantenya dengan Dewi Sangga Langit ke Wengker.

Iring-iringan temanten itu harus diiringi oleh jaran-jaran dengan melewati bawah tanah dengan diiringi oleh alat musik yang berasal dari bambu dan besi. Pada jaman sekarang besi ini menjadi kenong. Dan bambu itu menjadi terompet dan jaranan.

Dalam perjalanan mengiringi temantenya Dewi Songgo Langit dengan Pujangganom itu, Singo Ludoyo beranggapan bahwa dirinya sudah sampai ke Wengker, tetapi ternyata dia masih sampai di Gunung Liman. Dia marah-marah pada waktu itu sehingga dia mengobrak-abrik Gunung Liman itu dan sekarang tempat itu menjadi Simoroto. Akhirnya sebelum dia sampai ke tanah Wengker dia kembali lagi ke Kediri. Dia keluar digua Selomangklung. Sekarang nama tempat itu adalah selomangkleng.

Karena Dewi Sonmggo Langit sudah diboyong ke Wengker oleh Puijangganom dan tidak mau menjadi raja di Kediri, maka kekuasaan Kahuripan diberikan kepada kedua adiknya yang bernama Lembu Amiluhut dan Lembu Amijaya. Setelah Sangga Langit diboyong oleh Pujangganom ke daerah Wengker Bantar Angin, Dewi Sangga Langit merubah nama tempat itu menjadi Ponorogo Jaranan muncul di kediri itu hanya untuk menggambarkan boyongnya dewi Songgo langit dari kediri menuju Wengker Bantar Angin. Pada saat boyongan ke Wengker, Dewi Sangga Langit dan Klana Sewandana dikarak oleh Singo Barong. Pengarakan itu dilakukan dengan menerobos dari dalam tanah sambil berjoget. Alat musik yang dimainkan adalah berasal dari bambu dan besi. Pada jaman sekarang besi ini menjadi kenong.

Untuk mengenang sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit dan Pernikahanya dengan Klana Sewandono atau Pujangga Anom inilah masyarakat kediri membuat kesenian jaranan. Sedangkan di Ponorogo Muncul Reog. Dua kesenian ini sebenarnya memiliki akar historis yang hampir sama. Seni jaranan ini diturunkan secara turun temurun hingga sekarang ini.






Jaranan Dan Representasi Abangan
Jaranan pada jaman dahulu adalah selalu bersifat sakral. Maksudnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya gaib. Selain untuk tontonan dahulu jaranan juga digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan roh-roh leluhur keraton. Pada jaman kerajaan dahulu jaranan seringkali ditampilkan di keraton.

Dalam praktek sehari-harinya para seniman jaranan adalah orang-orang abangan yang masih taat kepada leluhur. Mereka masih menggunakan danyangan atau punden sebagai tenpat yang dikeramatkan. Mereka masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap roh-roh nenek moyangnya. Mereka juga masih melaksanakan praktik-praktik slametan seperti halnya dilakukan oleh orang-orang dahulu.

Pada kenyataanaya seniman jaranan yang ada di kediri adalah para pekerja kasar semua. Mereka sebagian besar adalah tukang becak dan tukang kayu. Ada sebagian dari mereka yang bekerja sebagai sebagai penjual makanan ringan disepanjang jalan Bandar yang membujur dari utara ke selatan.

Cliford Geertz mengidentifikasi mereka dengan sebutan abangan. Geertz memberikan penjelasan tentang praktik abangan. Masayarakat abangan adalah suatu sekte politio-religius dimana kepoercayaan jawa asli melebur dengan Marxisme yang Nasionalistis yang memungkinkan pemeluknya sekaligus mendukung kebijakan komunisdi Indonesia. Sambil memurnikan upacara-upacara abangan dari sisa-sisa Islam (Geertz 1983).

Dalam perkembanganya kesenian jaranan mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan kondisi social masyarakat yang sudah berubah dalam memaknai dan mengambangkan jaranan. dari tahun-ke tahun jaranan mulai berubah dari yang sifatnya tuntunan menjadi tontonan dan yang paling menarik adalah jaranan sebagai alat untuk menarik simpatisan dan untuk pengembangan pariwisata.

Jaranan pada tahun 1960-an menjadi alat politik PKI untuk menopang kekuasaanya dan menarik masa. Pada tahun-tahun itu kebijakan Sukarno tentang Nasakom sangat mempengaruhi keberadaan lembaga-lembaga yang ada di bawah. Dari nasionalisme, Agama dan komunis ini, memiliki lembaga-lembaga sendiri. Kelompok itu memiliki basis kesenian sendiri-sendiri. Lekra, lesbumi dan LKN adalah lembaga kesenian yang ada di tingkat bawah.

Pada tahun itu jaranan sudah ada dan kebetulan bernaung dibawah pengawasan Lekra. Jaranan pada saat itu sudah sangat digemari masyarakat. Bahkan dikediri pada saat itu sudah berdiri beberapa kelompok jaranan. kelompok jaranan ini banyak digawangi oleh orang-orang yang berada di lembaga kesenian. Dari ketiga lembaga kesenian yang ada, semuanya memiliki kesenian sendiri-sendiri yang sesuai dengan misinya masing-masing.

Pada tahun 60an itu masing-masing kelompok jaranan berkontestasi dengan sehat. Walaupun mereka berasal dari lembaga kesenian yang berbeda, tapi pada saat itu mereka masih bisa berbagi ruang dan berkontestasi. Mereka saling mendukung dan mengembangkan kreatifitasnya dalam berkesenian. Jaranan pada saat itu masih tampil dengan polos sekali. Pemainya hanya mengenakan celana kombor dan tanpa make up. Tidak ada batas antara pemain, penabuh dan penonton. Mereka sama-sama berada di tanah. Mereka bisa saling tukar main antara satu dengan lainya. Berbeda dengan jaman jepang pada yang masih menggunakan goni sebagai pakaiannya. Pada tahun-tahun 60an jaranan bisa tampil vulgar di manapun dia berada.

Pada tahun 1965 terjadi peristiwa pembersihan dari kalangan agamawan kepada kelompok-kelompok abangan. Pembersihan ini dilakukan tas kerjasamama Negara dengan kaum agamawan. Akibat dari pembersihan itu masyarakat abangan yang ada di Kediri pada saat itu sempat kocar-kacir. Terlebih pada orang-orang yang memang bergelut di lembaga PKI ataupun pernah terlibat.

Orang-orang yang terlibat sebagai anggota partai komunis dibunuh. Para seniman-seniman yang berada dibawah PKI yaitu Lekra dihabisi semua. Danyangan dan beberapa punden banyak yang dirusak. Bahkan patung-patung dan arca yang sekarang berada di museum Airlangga terlihat banyak yang hancur. Ini adalah akibat pertikaian politik 1965. segala property yang berhubungan dengan tradisi orang abangan dimusnahkan. Termasuk didalamnya adalah jaranan.

Setelah kejadian berdarah tahun 1965 itu jaranan yang dahulu adalah kesenian yang sangat dibangggakan masyarakat hilang seketika. Jaranan adalah representasi dari kaum abangan yang mencoba untuk memberikan eksistensi dirinya pada kesenian. Mereka benar-benar mengalami trauma yang berkepanjangan. Sehingga kesenian jaranan pada paska 65 mundur. Kondisi politik 65 ini telah membawa jaranan pada titik kemandekanya. Kecuali jaranan yang bernaung di bawah komunis aman dari pembersihan ini. Keberadaan jaranan pada saat itu juga masih relative sedikit. Trauma itu ternyata tidak dirasakan oleh orang-orang yang berasal dar lekra saja. Seniman dari lesbumi dan LKN waktu itu juga agak ketakutan untuk tampil di public. Kebanyakan dari seniman yang ada dikediri pada waktu itu juga berhenti dari kesenian untuk semantara waktu.

Pasca peristiwa berdarah itu seluruh elemen masyarakat memberikan identifikasi yang negatif terhadap kesenian jaranan. dari kalangan agamawan. Para agamawan beranggapan bahwa jaranan itu mengundang setan. Sehingga wajar jika pada saat itu para agamawan terlebih ansor menghabisi seniman-seniman yang berbau komunis di kediri.

Negara yang mulai memberikan pengngontrolan seniman dengan membuatkan Nomor Induk Seniman (NIS) pada kurun waktu tahun 1965-1967. Dengan memberikan NIS ini pemerintah bisa mengontrol lebih jauh seniman yang terlibat dengan komunis. Bagi yang tidak memiliki NIS biasanya mereka dikasih nomor aktif sebagai seniman. "Tanpa memiliki kartu ini, seniman tidak boleh tampil di ruang publik" kata Mbah Ketang.

Praksis paska 65 jaranan jarang sekali tampil di ruang public. Seniman-seniman jaranan yang berasal dari LKN mungkin masih bisa berunjuk kebolehanya di ruang public. Misalnya jaranan Sopongiro di Bandar dan jaranan Turnojoyo Pakelan. Dua jaranan ini bisa eksis dan tidak terberangus pada tahun 65 karena mereka adalah kelompok kesenian yang berasal dari LKN.

Stigmatisasi yang dikembangkan oleh agamawan dan Negara rupanya telah meberangus nalar masyarakat. Paska 65 masyarakat secara tidak langsung memberikan identifikasi negatif terhadap kesenian jaranan. Mereka masih menganggap bahwa kesenian jaranan itu adalah kesenian milik PKI.

Masyarakat tidak mau dicap merah oleh pemerintah dan kaum agamawan sebagai pengikut PKI. Akhirnya kesenian jaranan dijauhi oleh masyarakat. Pasca terjadi peristiwa berdarah rtahun 1965 itu, kesenian jaranan mulai lumpuh total. Baru pada tahun 1977 jaranan mulai menggeliat lagi. Jaranan menjadi sebyuah idiom baru yang tampil berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jaranan pada tahun sebeliumnya banyak berafiliasi dengan komunis akan tetapi pada tahun itu jaranan mulai menggandeng militer untuk dijadikan alat untuk melindungi dirinya.

Artikel tersebut diatas saya kutip dari wikipedia


Kalau Foto-foto Jaranan itu diambil di pementasan Reog di Purwantoro, Wonogiri. group Reog nya Ringin Seto.

Kembar Mayang dan Janur

Sunday, September 19, 2010

Kembar Mayang adalah hiasan yang terbuat dari janur, buah-buahan dan bunga yang jumlahnya ada dua. kembar Mayang dipercaya jadi salah satu syarat dari pesta pernikahan adat jawa kususnya Jawa Tengah. Kembar Mayang membawa pertada bahwa bertemunya keluarga baru, asli budaya kembar mayang adalah meniru pesta perkawinan para bangsawan atau penobatan Raja.

Kembar Mayang
Kembar Mayang sudah jadi tradisi yang harus ada setiap ada acara pesta pernikahan, Sejarahnya itu dari cerita legenda Partakrama dulu kala Dewi Supraba mau di jadikan istri oleh Danaraja kalau syaranya terpenuhi, Dewi Supraba minta Kembar Mayang Khayangan yang berupa Klepu Jayadaru Dewadaru. Klepu adalah Kalpataru Pohon Kalpataru dianggap bahwa pohon kehidupan yang mempunyai Kasiat atau Hoki yang baik yang bisa mempengaruhi sekitarnya, maka dari itu pohon ini di impikan oleh Dewi Supraba. Untungnya ada Pandawa yang sanggup meminjam Kembar Mayang tersebut dari Khayangan.

Kembar mayang biasanya ada pada acara Pesta Pernikahan, untuk Tolak bala, Penghormatan pelantikan Pejabat.

Tapi sekarang ini saya sering melihat Kembar Mayang yang terbuat dari plastik, mungkin sekarang tradisi Kembar Mayang sudah hampir di tinggalkan oleh orang yang tidak mau repot memikirkan pembuatan Kembar Mayang yang pembuatantannya cukup lama dan bahan bakunya cukup sulit di dapat, atau kemungkinan karena harga Kembar Mayang sendiri cukup mahal.

Kembar Mayang Kecil

Kembar Mayang
Foto diatas adalah Kembar Mayang yang di buat pada saat pernikahan temen saya di Desa Biting, Purwantoro, Wonogiri.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Cumbri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger