Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Serat Kalitada Jaman Edan

Monday, June 22, 2015

Ngobrol bersama Pakdhe ku ternyata sampai membahas mengenai Serat Kalitada karangan dari Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pakdhe ku bercerita bahwa di dalam Serat Kalitada tersebut bahwa menggambarkan keadaan di jaman yang akan datang, umat manusia akan kebingungan karena di dunia ini tidak akan ada kepastian dan tidak menentu keadaannya jaman tersebut adalah jaman gila atau edan. 


Serat Kalatidha ingkang dipun anggit pujangga agung Raden Ngabehi Ronggowarsito, anggambaraken kawontenan ing jaman
mangu-mangu. Umat manungsa tansah mangu-mangu awit
kawontenan ing ndoya ingkang mboten wonten pesthenipun,
ingkang kaserat ugi minangka jaman edan.

1. Siji
Mangkya darajating praja,
kawurjan wus sunya ruri,
rurah pangrehing ukara,
karana tanpa palupi,
ponang paramengkawi,
kawileting tyas malatkung,
kongas kasudranira,
tidhem tandhaning dumadi,
ardayengrat dening karoban rubeda.

2. Loro
Ratune ratu utama,
patihe patih linuwih,
pra nayaka tyas raharja,
panekare becik-becik,
parandene tan dadi,
paliyasing Kalabendu,
malah sangkin andadra,
rubeda kang ngreribedi,
beda-beda ardane wong sanagara,

3. Telu
Katatangi tangisira,
sira sang paramengkawi,
kawileting tyas duhkita,
kataman ing reh wirangi,
dening upaya sandi,
sumaruna anarawung,
pangimur manuara,
met pamrih melik pakolih,
temah suha ing karsa tanpa weweka,

4. Papat
Dhasar karoban pawarta,
babaratan ujar lamis,
pinudya dadya pangarsa,
wekasan malah kawuri,
yen pinikir sayekti,
pedah apa aneng ngayun,
andhedher kaluputan,
siniraman banyu lali,
lamun tuwuh dadi kakembanging beka.

5. Limo
Ujaring panitisastra,
awawarah asung peling,
ing jaman keneng musibat,
wong ambek jatmika kontit,
mengkono yen niteni,
pedah apa lalawora,
mundhak angraranta ati,
angurbaya ngiketa cariteng kuna,

6. Enem
Keni kinarya darsana
penglimbangan ala lan becik,
sayekti akeh kewala,
lalakon kang dadi tamsil,
masalahing ngaurip,
wahananira tinemu,
temahan anarima,
mupus papasthening takdir,
puluh-puluh anglakoni kaelokan.


7. Pitu
Amenangi jaman edan,
ewuh aya ing pambudi,
melu edan nora tahan,
yen tan melu anglakoni,
boya kaduman melik,
kaliren wekasanipun,
dilalah karsa Allah,
begja-begjane kang lali,
luwih begja kang eling lan waspada.

8. Wolu
Samono iku bebasan,
padu-padune kepengin,
bener ingkang angarani,
nanging sajroning batin,
sajatine nyamut-nyamut,
wis tuwa arep apa,
nuhung mahasing asepi,
supayantuk parimarmaning Hyang Sukma.

9. Songo
Beda lan kang wus santosa,
kinarilan ing Hyang Widdhi,
satiba malanganeya,
tan susah ngupaya kasil,
saking mangunah prapti,
PAngeran paring pitulung,
marga samaning titah,
rupa sabarang pakolih,
parandene masih taberi iktiyar.

10. Sepuluh
Sakadare linakonan,
mung tumindak mara ati,
angger tan dadi prakara,
karana wirayat muni,
ihtiyar iku yekti,
pamilihe reh rahayu,
sinambi budi daya,
kanthi awas lawan eling,
kang kaesthi antuka parmaning Suksma.

Itu tadi serat Kalitada dari Raden Ngabehi Ronggowarsito yang terdiri dari sepuluh serat bisa di artikan sendiri.

Sekarang mungkin sudah memasuki jaman edan tapi mungkin juga nanti generasi setelah kita lebih edan lagi. Sampai tengah malam topik obrolan kami masih mengenai Serat Kalitada kopi ku aja sudah habis dan untuk tidak mengganggu istirahat Pakdhe aku berpamitan pulang.

Memet Ikan Di Kalen

Sunday, June 21, 2015

Satu gelas kopi sudah aku buat dan aku bawa ke bangku di emper rumah sambil udut diselingi ngopi serta chating bbm rasanya nikmat ku bayangkan seperti itu, kucari udutku tapi kok tinggal satu batang yang ada. Akhirnya aku pergi kewarung sebelah barat rumahku agak jauh juga sih kudu naik motor di tengah-tengah jalan aku lihat beberapa orang berkumpul di pinggir jalan tepatnya di Kalen (selokan) aku penasaran adapakah ? dari pada pernasaran pingin tahu akirnya aku berhenti dan melihat wah ternyata mereka lagi MEMET di Kalen (mencari ikat) dari sisa-sisa air selokan disitu kayaknya banyak terdapat ikan kemungkinan lele, wader, uceng dan bahkan iwak empluk (cetuk).

Kata MEMET mungkin cuma orang-orang dan anak-anak daerah asalku saja yang mengetahuinya, di tempat lain lain kemungkinan berbeda bahasa atau istilah. Kalau waktu jaman aku SD dahulu memet di kalen itu hampir tiap akhir musim penghujan anak-anak yang suka bermain bersama-sama teman-teman akan melakukan pencarian dan pemburuan ikan di kalen-kalen yang air nya tinggal genangan nya saja.

Cara memet itu lah yang mengasikan bagi anak-anak usia 7 sampai 13 tahun bermain air dan berburu ikan yang kecil-kecil berebutan beramai-ramai. Kalen atau selokan itu di bendung dahulu disebelah bawahnya lalu anak-anak akan NEWU (menguras airnya) sedangkal mungkin menggunakan ember bekas atau batok kelapa. Setelah air tinggal sedikit maka anak-anak akan segera turun mengubek-ubek air yang tinggal sedikit tapi dan ikan kecil-kecil akan segera di buru nya. 

Itu tadi sedikit tentang memet mencari ikan yang sangat di gemari anak-anak di mana saja berada, untuk tempat yang lain kemungkinan istilahnya berbeda kalau ada yang pernah mengalami hal seperti itu di tempat asal nya namanya apa ? bisa kasih tahu ??? 

Warung Kopi Ndalan Anyar

Waktu malem bulan purnama tanggal 15 Jumadilakhir Tahun 1948 kalender Jawa atau tanggal 05 April 2015, malam itu pukul 20:00 WIB aku di Whatsapp temenku namanya Eko orang Ponorogo di ajakin ngopi katanya dari pada di rumah tidur sore. Akhirnya aku stater motorku dan berangkat kerumahnya sendirian melewati perbatasan hutan jati Alas Kucur ternyata tidak ada apa-apa dijalan malam itu sampai di rumahnya Eko. 

Di rumahnya eko bercakap-cakap sejenak ngobrol masalah ini dan itu sudah jam 21:00 WIB aku tagih Ngopinya tadi la wong tadi katanya ngajakin Ngopi, berangkatlah ke jalan anyar Ponorogo hanya sekedar kepingin ngopi.

Ngopi merupakan kenikmatan tersendiri bagi penikmat kopi terutama apalagi kalau kita minum kopinya di warung yang penjual kopinya cantik dan enak di pandang mata. Di Ponorogo ada tempat Ngopi yang menurut saya cukup ramai di malam hari entah itu malam apa saja terutama kalau malam minggu, tempat ngopi itu berada di sekitaran GOR Ponorogo orang-orang menyebutnya Ndalan Anyar atau jalan baru walaupun hanya warung-warung tenda di pinggiran jalan.  Banyak berjajar warung-warung kopi di Ndalan Anyar ini kalau di hitung lebih dari 25 warung tenda yang hampir semua penjualnya wanita yang masih muda dan cantik-cantik katany orang.

Warung-warung yang banyak berjajar di Ndalan Anyar Ponorogo ini hampir semuanya menjajakan kopi hitam (kopi murni) maupun kopi produksi pabrik ada kopi white dan lain sebagainya. Aku dan temenku eko berhenti di salah satu warung kopi tenda di antara banyak warung yang berjajar yang penting ada kopinya dan bisa nongkrong sambil ngobrol kesana kemari entah yang di omongin apa saja, kadang kala gadis penjual kopi juga ikutan nimbrung ngobrol kalau pengunjungnya agak sepi.


Mulai dari jam 20:00 WIB warung-warung kopi tenda di pinggir jalan baru ( Ndalan Anyar ) Ponorogo ini sudah membuka lapak warungnya dan tutup sampai jam 02:00 dini hari kadang sampai subuh baru membereskan barang dagangan beserta tendanya. Makanan serta minuman yang dijual biasanya ada nasi pecel, mie rebus maupun goreng, aneka gorengan, susu jahe dan sebagainya tidak mungkin ketinggalan pastinya kopi hitam yang menjadi minuman utama. Aku dan temanku sampai jam 23:30 WIB baru meninggalkan warung kopi tenda di Ndalan Anyar ini dan tidak lupa membayar kopinya.

Kayu Jati Alas Ndonoloyo


Hari minggu gak ada kegiatan apapun jadi bingung mau ngapain ?! pada waktu itu aku masih SMP (tahun 1996) dan akhirnya duduk manis didepan TV nonton acara kesukaanku Dragon Ball. Setelah Dragon Ball selesai tayang aku stater motor bututku Yamaha robot dan keluar rumah entah kemana pokoknya gak bete di rumah, sampai pertigaan deket warungnya mbak ira aku ketemu temenku dan di ajak ke rumah temennya yang ada di Slogohimo tempatnya deket Alas Ndonoloyo. Aku pikir-pikir asik juga main ke Alas Ndonoloyo dari pada gak ada kegiatan sama sekali di rumah kan enak main ke Ndonoloyo, disana di Alas Ndonoloyo kalau hari minggu banyak orang sekedar nongkrong menghabiskan waktu hari libur tapi itu dulu jaman aku masih SMP gak tau kalau sekarang.

Membahas mengenai Alas Ndonoloyo atau Hutan Ndonoloyo itu terletak di Desa Watusomo Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, kalau kita mau ke Alas Ndonoloyo dari Kota Solo kurang lebih sekitar 75 km arah Tenggara Kota Solo, dari Kota Wonogiri ketimur 45 km. Alas Ndonoloyo atau hutan Ndonoloyo ini merupakan hutan sejenis tanamannya kayu jati dan pinus. Di Alas Ndonoloyo atau hutan Ndonoloyo ini terdapat Punden atau Makam, kalau hari Minggu biasanya banyak pemuda pemudi yang main ke situ.


Di sekitar Punden atau Makan tersebut masih banyak berdiri kayu jati yang besar-besar ukurannya yang jarang tebang, hanya ditebang kalau Keraton Solo membutuhkan kayu jati untuk membangun Keratonnya. Ukuran kayu jati yang masih tumbuh berdiri dengan kokoh itu kira-kira ada yang berdiameter 2 meter sudah jarang sekali di temui kayu jati yang masih tumbuh sebesar itu di pulau Jawa.

Tradisi Megengan Menjelang Lebaran Yang Mulai Luntur

Tuesday, June 16, 2015

Sore itu saya pulang dari sekolah SMK di Solo (kira-kira tahun 1997), sampai rumah keliahatannya di dapur (pawon) ada kesibukan lain dari biasanya. Ibu ku (mbokku) sedang sibuk masak besar kayaknya mebuat kue apem, golong serta jenis masakan yang saya tidak tau pokoknya berbagai macam. Dan aku tanya "arep enek acara opo to mbok ?" (mau ada acara apa to bu ?) dijawab Ibu "Megengan Le".

Megengan merupakan tradisi Selamatan dan mengundang tetangga yang akan di laksanakanmenjelang datangnya Bulan Pasa Kalender Jawa atau Bulan Ramadhan untuk Kalender Hijriyah. Di daerah asalku Wonogiri sampai saat ini masih banyak di jumpai tradisi Megengan ini hampir seluruh warga Desa melakukannya hanya saja tidak satu Desa cuma di lingkungan-lingkungan terdekat saja. Untuk satu RT bisa menjadi 4 sampai 5 bahkan 6 kelompok yang mengadakan Megengan ini, masalahnya kalau satu RT di jadikan satu maka sampai pagi baru selesai dilaksanakan, satu rumah rata-rata akan memerlukan waktu 15 sampai 25 menit.

Tradisi Megengan itu semacam Upacara Selamatan yang akan di pimpin oleh satu orang yang dituakan di lingkungan biasanya orang tersebut pandai mengucapkan Doa Selamat dalam bahasa Jawa kalau di daerah asal saya di sebut NGAJATNE, Tidak semua orang bisa memimpin Upacara Selamatan Megengan ini. Sebelum Upacara Selamatan di mulai akan di hidangkan di tengah-tengah ruangan makanan yang berupa Ubo Rampe berupa Buceng, Golong, Jenag abang, jenang Putih, Jajan Pasar, lauk pauk dan tidak lupa Kue Apem. Semua orang membentuk suatu lingkaran di Jogan (Ruangan Tengah Rumah, rumah orang Jawa jaman dulu hampir semuanya Rumah Limasan atau Joglo yang luas bagian tengah) duduk bersila membentuk lingkaran dan di tengah-tengah di gelar Ubo Rampe untuk Upacara Selamatan Megengan. 


Setelah semua Ubo Rampe siap di tengah-tengah Pemimpin Upacara Selamat Megengan akan mengucapkan Doa-doa Selamat (NGAJATNE) dan orang-orang yang duduk melingkar akan mengucapkan Nggeh dan di akhiri dengan Amin, Upacara Selamatan sudah selesai dan semua Ubo Rampe (Hidangan) di bagikan dengan dibungkus daun jati merata ke semua orang yang datang ke Upacara Selamatan Megengan. Selesai di satu rumah akan berpindah ke rumah yang selanjutnya dan selanjutnya lagi sampai semua rumah yang mengadakan Upacara Selamatan Megengan selesai.

Memeriahkan Lebaran Dengan Balon

BALON mendengar kata tersebut aku jadi teringat dengan suatu benda yang melayang-layang di udara di waktu hari-hari Puasa menjelang lebaran. Di daerah asalku Desa kelahiranku Kepyar waktu dulu jaman tahun 1988 sampai 1997 di waktu menjelang Lebaran atau Hari Raya Idhul Fitri akan banyak anak-anak yang senang membuat suatu hiburan di buatnya balon dari bahan plastik putih maupun hitam yang biasa di beli di pasar Purwantoro.

Untuk membuat balon yang kita perlukan adalah bahan-bahan yang sederhana yaitu platik atau pun kertas, untuk membuat balon dari bahan plastik alatnya cukup menggunakan ublik dan lidi dari pohon kelapan, sedangkan untuk bahan kertas alatnya cukup dengan lem dan ketelatenan.

Waktu dulu jaman belum semodern sekarang ini untuk mengisi waktu di bulan Puasa anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) maupun yang sudah di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di waktu sore hari menghibur dirinya dengan membuat balon ini setelah selesai biasanya akan di umbulne (diterbangkan) dengan menggunakan asap yang di peroleh dengan membakar Blarak (Daun Kelapa Kering) dan sampah-sampah daun yang banyak terdapat di bawah pohon di sekitar jalan Desa. Tapi waktu dulu itu menuruk saya kok terasa lucu juga waktu balon yang selesai di buat dan di terbangkan tapi setelah terbang di kejar sampai turun lagi dan di bawa pulang.


Itu tadi sekelumit kesibukan anak-anak Desaku jaman 1988 sampai 1997 untuk mengisi waktu di sore hari bulan Puasa. Menjelang berakhirnya Bulan Puasa anak-anak akan membuat jenis Balon yang sama tetapi ukurannya yang jauh berbeda biasanya ukuran diameter balonnya itu akan 2 meter sampai 3 meter dan ketinggiannya biasanya ada yang 5 m sampai 8 meter, balon yang ukurannya besar ini akan di umbulne (diterbangkan) di waktu setelah selasai Sholat Idhul Fitri, di lapangan Desa Kepyar ( Lapangan Mandala Bakti) akan dilaksanakan Sholat Idhul Fitri seluruh warga baik yang masih kecil sampai yang sudah tua.


Di lapangan Desa ini beramai-ramai Balon yang ukurannya Super Besar menurut pandangan orang-orang Desa kami akan di umbulne (diterbangkan) tetapi untuk balon yang ukuran besar ini tidak akan dikejar lagi.



Nyaringnya Baleman (Long Bumbung) Di Waktu Malam

Malam begitu dingin menyusup kekulit sampai ketulang dan aku terbangun dari alam tidur saat terdengar suara Duar duer duor bersahutan di malam pekat, belum ada listrik seperti sekarang ini yang memberikan cahaya hanyalah nyala api dari ublik di ruang tengah di rumah memang hanya satu ublik itu, malam itu bulan Puasa tahun 1989 jam 11 malem suara duar duer duor terdengar lagi dan kuingat itu adalah suara dari baleman mainan dari anak-anak yang selesai Sholat Tarawih.

Baleman adalah sejenis benda yang terbuat dari bambu yang bisa mengeluarkan bunyi Duor, Baleman atau yang umum di sebut Long Bumbung adalah suatu alat permainan anak-anak di waktu malam setelah Sholat Tarawih di Bulan Puasa di Daerah asalku Wonogiri tepatnya Desa Kepyar Kecamatan Purwantoro, tapi permainan itu sudah lama sekali hilang dan mungkin tidak akan di lakukan lagi. Baleman atau Long Bumbung sebenarnya sangat berbahaya bagi anak-anak yang bermain atau yang hanya melihatnya saja karena Baleman atau Long Bumbung cara bermainnya atau membunyikannya menggunakan minyak tanah yang dimasukan kedalam bambu dan di sulut menggunakan api terjadi letusan dan menghasilkan bunyi yang nyaring.

Untuk membuat Baleman atau Long Bumbung kita harus menyiapkan bahan baku berupa Bambu Petung kalau tidah ada bambu petung bisa menggunakan bambu ori. Sedangkan alatnya adalah pahat kecil, palu besi dan besi yang agak panjang atau linggis juga bisa. Membuat baleman atau Long Bumbung kita siapkan bambu petung dengan ukuran panjang kurang lebih 4 meter sampai 5 meter kalau diameternya terserah berapapun semakin diameternya besar semakin kencang suara yang dihasilkan. selanjutnya bambu yang sudah kita potong tadi kita lubangi di bagian paling bawah diatasnya ruas paling bawah dengan ukuran lubang 2 x 2 cm, Kita lubangi juga untuk dalamnya bambu tapi untuk ruas paling bawah di biarkan tetap utuh dan Baleman atau Long Bumbung sudah selesai di buat.


Selain main balon di sorehari anak-anak SD maupun SMP di Desaku jaman tahun 1988 sampai tahun 1997 masih sering memainkan baleman atau long bumbung ini, pada waktu itu masih belum ada Hand Phone apalagi Tablet, jadi untuk mengisi waktu anak-anak SD maupun SMP sering main dengan Baleman atau Long Bumbung ini seletah Sholat Tarawih. Anak-anak beramai-ramai berkumpul di suatu tempat biasanya di tempat salah satu anak untuk bermain baleman ini sampai kantuk menyerang mata merka, biasanya jam 10 malam sudah berhenti dan pulang kerumah masing-masing.


Kumpulan Foto Ini Jadi Saksi 'Amarah' Gunung Kelud.

Thursday, February 20, 2014

Wajah Penuh Debu
Ibu ini mungkin antara nekat dan memang harus melakukan hal penting dalam hidupnya. Alih-alih memilih berdiam diri di rumah karena hujan abu vulkanis dari Kelud, ibu-ibu ini justru menembus jalanan yang dipenuhi abu tebal. Meskipun memakai perlindungan jas hujan dan helm, dia tak berdaya membuat wajahnya dipenuhi abu vulkanis.


Borobudur Diselimuti
Arah angin yang menuju barat membuat abu vulkanis yang keluar dari kubah lava Kelud mengarah ke daerah Jawa Tengah. Salah satu yang terkena dampak buruknya adalah candi Borobudur. Candi yang dilindungi UNESCO dan terletak di Magelang, ratusan kilometer dari Kelud itu bahkan harus ditutup dengan terpal.
Disebutkan ada 72 stupa kecil dan 1 stupa besar yang akhirnya harus ditutupi terpal supaya tidak semakin kotor oleh abu vulkanis Kelud. Untung saja setelah melakukan pemeriksaan, pH abu vulkanis Kelud di stupa mencapai 6, yang masih dalam kategori normal yakni 7

 Si 'Wedhus Gembel'
Inilah penampakan si abu vulkanis yang keluar dari kubah lava Kelud dalam bentuk awan panas atau yang kerap disebut 'Wedhus Gembel'. Bentuknya yang bergelombang dan tebal menyerupai kulit domba membuat sebagian besar masyarakat Jawa menjulukinya seperti itu. Terlihat indah namun sangat mengerikan.

Awan panas ini membawa lebih dari dua ratus juta meter kubik material bumi yang beruba abu vulkanis sampai batu-batu kerikil panas yang berjalan mengikuti arah angin dan menyebabkan hujan abu vulkanis yang berbahaya

Jalanan di Pujon
Kawasan Pujon berada di lereng Panderman yang satu garis dengan Kelud. Karena tidak tertutup oleh bukit atau jajaran pegunungan seperti Malang, Pujon menerima dampak abu vulkanis Kelud cukup berat. Foto ini diambil pada hari Jumat (14/2) siang atau beberapa jam pasca Kelud memuntahkan 'isi perutnya'. Tampak jalanan berubah putih abu-abu karena abu vulkanis yang begitu tebal.

Jalanan di Pujon
Kawasan Pujon berada di lereng Panderman yang satu garis dengan Kelud. Karena tidak tertutup oleh bukit atau jajaran pegunungan seperti Malang, Pujon menerima dampak abu vulkanis Kelud cukup berat. Foto ini diambil pada hari Jumat (14/2) siang atau beberapa jam pasca Kelud memuntahkan 'isi perutnya'. Tampak jalanan berubah putih abu-abu karena abu vulkanis yang begitu tebal.

Jarak Pandang Terbatas
Guyuran abu vulkanis Kelud yang mencapai Jogja bahkan membuat daerah istimewa itu hanya memiliki jarak pandang kurang dari tujuh meter. Para warga langsung memakai masker untuk menutupi alat pernafasan mereka. Sungguh, ratusan kilometer sepertinya tak memiliki pengaruh penting bagi Kelud

Kediri Yang Berpasir
Sebagai salah satu daerah yang sangat dekat dengan Kelud, Kediri memang mengalami dampak pula. Bahkan kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) yang biasanya menjadi jalur utama Kediri dan ramai dikunjungi wisatawan berkat monumen SLG itu harus rela berubah menjadi hamparan pasir. Dengan tebal mencapai 5cm, tentunya abu vulkanis yang memenuhi jalanan Kediri ini sangat mengganggu transportasi.

Keraton di Gurun Pasir
Melihat foto ini, seperti berpikir sebuah istana gurun pasir. Tapi ini bukanlah gurun pasir, melainkan ini jalanan keraton di kawasan Jogjakarta. Ya, jika keraton Jogja mampu 'selamat' dari gunung Merapi, kini mereka tak berdaya saat Kelud mengeluarkan material di dalam perutnya. Sehingga abu vulkanis membuat jalanan keraton Jogja berwarna abu-abu putih dan berdebu

Ngantang Yang Mencekam
Kawasan Ngantang sangat dekat dengan Kelud dari salah satu sisinya sehingga daerah ini mendapatkan dampak cukup mengerikan. Segera setelah Kelud erupsi pada Kamis (13/2) malam pukul 22.49, Ngantang bak daerah mencekam. Kondisi sangat panas dan tiba-tiba awan tebal yang menghujani Ngantang dengan abu vulkanis Kelud membuat daerah ini berubah menjadi mencekam. Bahkan membayangkan saja cukup mengerikan.





Evolusi Serangga Terbaru Setelah 250 Juta Tahun

Saturday, May 4, 2013

Makhluk mirip jangkrik ini disebut treehopper. Makhluk ini memiliki tiga pasang sayap yang tak biasa ditemukan pada evolusi serangga. Seperti apa?

Serangga ini ditemukan Benjamin Prud’homme dan rekan dari Institute of the Biology of Development di Marseille. Sayap serangga yang dimuat dalam jurnal Nature ini sangat lebar. Sayap ini diyakini hanya tumbuh pada segmen kedua dan ketiga dada serangga.

‘Helm’ serangga ini tumbuh dari segmen pertama dada serangga. Uniknya, ‘helm’ ini tumbuh melebihi panjang tubuh serangga itu sendiri dan memiliki warna serta bentuk dan ukuran beragam.

Hasil studi terdahulu menunjukkan, helm ini muncul dari tulang luar serangga yang terletak pada segmen dada. Prud’homme dan tim terkejut mendapati, helm itu ternyata merupakan perpaduan sepasang sayap, "Meski tak digunakan untuk terbang."

Peneliti mengatakan, helm pada serangga ini merupakan contoh pertama dari tubuh baru yang muncul pada 250 juta tahun evolusi serangga.

Sumber

Bunga Wijaya Kusuma

Wednesday, May 1, 2013

Liat bunga mekar lalu aku memfotonya dengan kamera hp dan katanya itu bunga Wijaya Kusuma, iseng googling nyari artikel tentang bunga tersebut eh ternyata kata tulisan artikel di blog kembangkeramat.blogspot ada jenisnya yang Keramat juga.
Wijaya Kusuma Keramat atau Pisonia Grandis

Wijayakusuma Keramat
Bunga Wijaya Kusuma atau nama latinnya Pisonia Grandis var Silvestris, tanaman ini kurang dikenal oleh mayarakat luas. Yang paham umumnya ahli botani atau paranormal, bentuknya mirip kol belanda (Pisonia Alba) yang biasa di tanam untuk tanaman hias. Bedanya, daun pucuk kol belanda warnanya kuning cerah, sementara daun pucuk wijayakusuma tetap hijau seperti daun pada umumnya.

Tanaman wijayakusuma bisa tinggi sekitar 3 meter bentuknya mirip bonsai. Menurut ahli K. Heyne, tanaman ini tingginya bisa mencapai 13 meter. Di Indonesia adanya di Kepulauan Seribu, Karimunjawa, pulau Puteran Madura, Bali, Ambon dan di Pulau Karang Bandung dekat pulau Nusakambangan. Di Bali dinamakan dag-dag see, di Ambon dinamakan sayur putih pulu. Yang bisa berbunga (mekar) cuma wijayakusuma Pisonia ini, yaitu yang ada pulau Karang Bandung Nusakambangan, Karimunjawa dan Bali, tapi jarang sekali.

Wijayakusuma punya bunga majemuk, tangkai bunganya merekah keluar. Satu tangkai bisa punya sekitar 10 helai, tiap helai bisa tumbuh sampai 20 kuntum bunga, jadi satu tangkai Wijayakusuma itu bisa ratusan bunga. Diameter bunga sangat kecil, cuma sekitar 2-4 milimeter, kalu sedang mekar , panjangnya 5 sampai 6 milimeter, bentuknya mirip terompet , warna kelopak bunga hijau, mahkota putih, benang sari putih kekuningan.

Bunga Wijayakusuma beraroma harum, mekar pada siang hari, dan bisa bertahan satu hari, setelah itu layu terus kering. Setangkai bunga kalau mekar tidak berbarengan tetapi bertahap, ada yang bisa menjadi biji (antara 1 - 2).

Bunga Sedap Malam

Wijayakusuma Hias
Tanaman ini biasanya ditanam di pot di pojok-pojok rumah. Bahasa latinnya Epiphyllum oxypetalum (Queen of’ Night). Warna bunganya putih, diameter 10 cm, awalnya banyak orang yang menamai midnight flower atau bunga tengah malam atau juga bunga sedap malam. bunga ini mekarnya pasti di waktu malam hari baunya sangatlah wangi atau harum benar-benar, pada waktu terbit matahari pasti bunga ini akan layu. Di masyarakat China populer menamai Keng Hwah yang artinya kembang yang indah dan agung. Mitosnya siapa saja yang beruntung bisa melihat bunga ini bakal lancar rejekinya.

Bunga Wijayakusuma atau Bunga Sedap malam hasil jepretan Hp SE W8

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Cumbri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger